kemudahan memahami Islaam


ADAB-ADAB TIDUR
9 Januari 2008, 6:02 am
Filed under: pembahasan2 adab

ADAB KETIKA TIDUR 

1.                  Berintropeksi diri sesaat sebelum tidur. Mengevaluasi segala perbuatan yang dilakukan di siang hari. Jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya ia memuji Allah, adapun jika ia dapatkan perbuatannya buruk maka hendaknya ia memohon ampun dan bertaubat kepada Allah.

2.                  Tidur dini, berdasarkan ĥadiits dari Ummul mukminiin ‘Aa-isyah riwayat Imam Al-Bukhaariy dan Imam Muslim bahwasanya Rasuulullah tidur pada awal malam dan bangun pada akhir malam, lalu Beliau –‘alayhishshalaatu wassalaam- melakukan shalat.

3.                  Berwudhu sebelum tidur, dan tidur dengan berbaring miring sebelah kanan. Berdasarkan ĥadiits dari Al-Baraa`  ibnu ‘Aazib –radhiyallahu ‘anhu-.

4.                  Mengirap (membersihkan/ menyapu/ mengibas) tempat tidurnya dengan sarung atau kain tiga kali sebelum berbaring. Berdasarkan ĥadiits dari Abuu Hurayrah riwayat Imam Al-Bukhaariy dam Imam Muslim.

5.                  Sebagian ulama berpendapat bahwasanya makruh tidur tengkurap. Berdasarkan ĥadiits Abuu Dzarr –radhiyallahu ‘anhu-: “Nabi –‘alayhishshalaatu wassalaam- pernah lewat melintasi aku, di kala itu aku sedang berbaring tengkurap, maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda: ‘Wahai Junaydab (panggilan Abuu Dzarr), sesungguhnya cara berbaring seperti ini adalah cara berbaringnya penghuni neraka.’” (Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Maajah dan dinilai shaĥiiĥ oleh Imam Al-Albaaniy). Namun sebagian ulama yang lain berpendapat tidak apa-apa tidur tengkurap karena mereka menilai ĥadiits di atas adalah ĥadiits yang lemah. Wallahu a’lam.

6.                  Makruh tidur di atas dak terbuka. Berdasarkan ĥadiits dari Rasuulullah: “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhaariy di dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dinilai shaĥiiĥ oleh Imam Al-Albaaniy).

7.                  Menutup pintu, bejana-bejana, makanan dan minuman, serta memadamkan api sebelum tidur. Berdasarkan ĥadiits Jaabir –radhiyallahu ‘anhu- riwayat Imam Al-Bukhaariy dan Imam Muslim.

8.                  Membaca ayat kursiy, dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, serta membaca surat Al-Ikhlaash, surat Al-Falaq dan surat An-Naas.

9.                Membaca doa-doa dan dzikir yang shaĥiiĥ dari Rasuulullah, seperti: 

Allahumma qiniy ‘adzaabaka yawma tab-‘atsu ‘ibaadaka 

Ya Allah lindungilah kami dari ‘adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali hamba-hamba-Mu. (Diriwayatkan oleh Imam Abuu Daawud dan diĥasankan oleh Imam Al-Albaaniy). 

Bismika Allahumma amuutu wa aĥyaa 

Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah aku mati dan aku hidup. (ĤR. Al-Bukhaariy)

10.                  Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka dapat berdoa dengan doa: 

A‘uudzu bikalimaatillah attaammah, min ghadhabihi wa syarri ‘ibaadihi, wa min hamazaatisy-syayaathiin wa an yaĥdhuruuni

Aku berlindung (kepada Allah) dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, dari murka-Nya dan (dari) kejelekan hamba-hamba-Nya, dan dari gangguan-gangguan setan dan (dari) kehadiran mereka kepadaku. (ĤR. Imam Abuu Daawud dan diĥasankan oleh Imam Al-Albaaniy). 

11.                  Apabila bermimpi buruk maka hendaknya ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali lalu merubah posisi tidurnya dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Dan hendaknya ia tidak menceritakan mimpi buruknya tersebut kepada orang lain serta tidak memikirkannya namun hendaknya ia berdoa dan bertawakkal kepada Allah, sesungguhnya mimpi buruknya tersebut tidak akan membahayakannya. Adapun jika mimpinya baik maka boleh ia menceritakannya kepada orang lain. 

12.                  Apabila bangun tidur membaca: 

Alĥamdulillah alladzii aĥyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhinnusyuur

 Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya-lah kami dikembalikan. (ĤR. Al-Bukhaariy) 

13.                  Ketika seseorang menguap hendaknya ia menahannya sekuat tenaga karena jika ia mengucapkan “Ha” maka setan akan menertawainya, berdasarkan ĥadiits dari Abuu Hurayrah riwayat Imam Al-Bukhaariy dan Imam Muslim. Atau hendaknya ia menutup mulutnya dengan tangannya karena setan akan masuk, berdasarkan ĥadiits dari Abuu Sa‘iid Al-Khudriy riwayat Imam Muslim, Imam Abuu Daawud dan Imam Aĥmad. 

 Sumber: Aadaabul Muslim fiil Yawm wal Laylah 24 Adaban Mutanawwi‘an (di susun oleh Departemen Ilmiah Daarul Wathan), dan sumber-sumber lainnya.


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Terima kasih infoNa..
Sangat membantu..

Komentar oleh John Hario

trimakasih

Komentar oleh juwandi




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: