kemudahan memahami Islaam


Pembagian Hati, Hati yang Sehat dan Hati yang Mati
9 Januari 2008, 6:20 am
Filed under: jernihnya hati

Masalah Pertama : Pembagian hati. 

Saudara-saudariku –semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatnya kepada kita semua-, ketahuilah bahwa hati itu terbagi menjadi tiga:

1.                  Hati yang sehat

2.                  Hati yang sakit

3.                  Hati yang mati 

Pertama; hati yang sehat yaitu hati yang bersih yang seorangpun tak akan bisa selamat pada hari kiamat kecuali jika dia datang kepada Allah dengannya. Hal ini berdasarkan firman Allah sebagaimana di dalam Al-Qur-aan surat Asy-Syu‘araa` ayat ke 88 dan 89, yang artinya: 

“(yaitu) hari yang tiada bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali siapa yang datang kepada Allah dengan qalbun saliim.”  

Qalbun saliim adalah hati yang bersih, sehat, selamat. Yaitu hati yang selamat dari menjadikan sekutu bagi Allah dengan alasan apapun. Ia hanya mengikhlashkan penghambaan dan peribadahan kepada Allah semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakkal, inaabah (kembali), merendahkan diri, dan yang lain-lainnya dari segala macam amal ibadah.Ia adalah hati yang selamat dari syahwat, serta selamat dari keraguan akan benarnya berita Allah.  Dan hati yang sehat ini tidak akan didapat kecuali dengan mengikuti Rasuulullah ‘alayhishshalaatu wassalaam.Ia menjadikan Rasuulullah sebagai sebaik-baik teladan, ia ikat hatinya untuk mengikuti dan tunduk kepada Beliau ‘alayhishshalaatu wassalaam, di mana ucapan semua orang bisa tertolak kecuali ucapan Rasuulullah ‘alayhishshalaatu wassalaam.  

Kedua; Hati yang mati, yaitu yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Ia tidak mengetahui Rabb-nya, tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah yang dicintai dan diridhai-Nya. Ia bahkan senantiasa mengikuti keinginan nafsu dan kelezatan dirinya, walaupun dengan begitu ia akan dimurkai Allah. Ia tidak memperdulikan apakah Allah ridha atau murka, yang penting ia mendapatkan bagian dan keinginannya. Ia menghamba kepada selain Allah; dalam cinta, takut, harap, ridha dan benci, pengagungan dan perendahan diri.Ia lebih mengutamakan dan mencintai hawa nafsunya daripada keridhaan Allah. Hawa nafsu adalah pemimpinnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah sopirnya, kelalaian adalah kendaraannya. Ia terbuai dengan pikiran untuk mendapatkan tujuan-tujuan duniawi, mabuk oleh hawa nafsu dan kesenangan dunia.Ia tidak memperdulikan orang yang memberikan nasehat, sebaliknya mengikuti setiap langkah dan keinginan setan. Dunia terkadang membuatnya benci dan terkadang membuatnya senang. Hawa nafsu membuatnya tuli dan buta selain daripada kebatilan.

Bersambung..


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: