kemudahan memahami Islaam


8. Kemunafikan Akbar
12 Januari 2008, 1:33 am
Filed under: Pembatal-Pembatal Keislaaman

8. Kemunafikan Akbar

Teman -semoga Allah menjagamu dan menjauhkan diriku dan dirimu dari kemunafikan dan akhlaq yang buruk-, ketahuilah bahwasanya nifaaq (kemunafikan) terbagi menjadi dua:

1. Nifaaq I’tiqaadiy (nifaaq akbar/besar), yaitu: seseorang menampakkan keislaaman pada kehidupannya dan menyembunyikan kekufuran dalam hatinya.

Maka pelaku nifaaq ini zhahirnya adalah muslim, namun sebenarnya ia adalah kafir. Seseorang yang zhahirnya adalah muslim maka kita perlakukan ia sebagai seorang muslim, adapun hatinya kita serahkan kepada Allah. Dan jika ia mati di atas kemunafikannya yang besar ini maka tempat kembalinya adalah lapisan yang paling dasar dari neraka.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu (Muĥammad) sekali-kali tidak akan mendapat seorangpun penolong bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (diin) Allah serta ikhlas (mengerjakan) diin mereka untuk Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang yang beriman, dan kelak Allah akan memberikan orang-orang yang beriman balasan yang besar”. (Terjemahan surat An-Nisaa` : 145-146) 

Di antara tanda munafiq akbar:

1.      Benci kepada Islaam.

2.      Tidak senang jika Islaam mendapatkan kejayaan.

3.      Berpaling dari Islaam, tidak mau tahu dan tidak mau lagi mempelajari dasar pokok Islaam.

4.      Benci kepada Rasuulullah –‘alayhishshalaatu wassalaam-

5.      Tidak mempercayai Rasuulullah –‘alayhishshalaatu wassalaam-

6.      Tidak mempercayai sebagian yang di bawa Rasuulullah -‘alayhisshalatu wassalam-

7.      Merasa senang saat direndahkannya Islaam. 

2. Nifaaq ‘amaliy (nifaaq kecil) yaitu: sifat-sifat tercela yang disebutkan dalam syari‘at bahwa ia adalah perbuatan kemunafikan namun bukan termasuk nifaaq i‘tiqaadiy. Maka pelakunya tidaklah keluar dari Islaam.

Contoh nifaaq ‘amaliy: barangsiapa yang jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia mengingkari, jika dipercaya ia berkhianat. (Lihat ĥadiits riwayat Imam Al-Bukhaariy no. 33 dan Imam Muslim no. 59)

Kita berlindung kepada Allah dari segala macam kemunafikan.  

Bersambung..


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: