kemudahan memahami Islaam


pembatal keislaaman [6] : pembatal keislaaman yang ke 6 dan ke 7
12 Januari 2008, 1:24 am
Filed under: Pembatal-Pembatal Keislaaman

Bismillah, washshalaatu wassalaam ‘alaal-mab‘uutsi raĥmatan lil-‘aalamiin Nabiyyinaa Muĥammad.Saudara-saudariku –semoga Allah memudahkan urusanmu-, selanjutnya di antara pembatal keislaaman adalah:

6. Menghalalkan sesuatu yang telah dimaklumi dalam Islaam bahwa hal tersebut adalah haram.

Misalnya: seseorang yang mengatakan perbuatan zina itu adalah boleh (halal), atau bahwasanya judi adalah boleh (halal), dan hal-hal lainnya yang telah dimaklumi  keharamannya. Coba kita tanyakan kepada anak-anak kaum muslimin yang masih bersih pemikirannya; apakah hukumnya zina? Apakah hukumnya judi? Mereka akan menjawab; haram, dosa, tidak boleh.

Maka teman, berhati-hatilah kita dari perbuatan menghalalkan apa yang telah dimaklumi dalam Islaam bahwa Allah telah mengharamkannya. Kita berlindung kepada Allah dari segala macam perbuatan kekufuran.Tentu saja sebagaimana telah disebutkan di awal-awal pembahasan bahwasanya orang tersebut dikafirkan jika ia melakukannya tanpa takwil atau dengan takwil tetapi takwil yang tidak teranggap. Adapun seseorang yang menghalalkan sesuatu yang haram karena mentakwil nash dan takwilnya adalah takwil yang teranggap maka ia tidak dikafirkan.

Oleh karena itu teman, renungilah apa yang telah kusampaikan ini. Apalah artinya hidup ini jika kita tidak memiliki keiimaanan. Inginkah engkau ke surga Allah? Inginkah engkau kebahagiaan di dunia dan akherat? Jika iya, maka jagalah selalu keislaamanmu, sayangilah selalu keiimaananmu.

Teman -semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk senantiasa istiqamah-, selanjutnya diantara pembatal keIslaaman adalah:

7. Berkeyakinan bahwa seseorang itu boleh keluar dari syari‘at Nabi Muĥammad –‘alayhishshalaatu wassalaam-. Misalnya: orang yang menamakan diri mereka sebagai muslim, namun tidak mau lagi shalat, tidak mau lagi bayar zakat, tidak mau lagi puasa. Mereka mengatakan bahwa shalat, puasa, zakat adalah untuk muslim yang masih awam (biasa), adapun orang-orang yang sudah sampai pada derajat tertentu maka ia tidak perlu lagi mengikuti syari‘at Nabi Muĥammad – ‘alayhishshalatu wassalam- karena mereka telah mengambil ilmu langsung dari Allah. Mereka tidak perlu lagi shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah wajib lainnya. Mereka boleh berzina, minum minuman keras, dan melakukan keharaman-keharaman lainnya.. Kepada Allah kita mengadu, kepada Allah kita memohon pertolongan.

Maka teman -semoga Allah menjadikan kita faqih dalam urusan diin kita- ketahuilah bahwa perbuatan seperti itu adalah perbuatan kekafiran. Bukankah Nabi Muĥammad –‘alayhishshalaatu wassalaam- yang mana Beliau –‘alayhishshalaatu wassalaam- adalah seorang rasul, manusia terbaik, manusia yang telah dipastikan masuk surga, namun Beliau –‘alayhishshalaatu wassalaam- senantiasa menjaga shalat, puasa, zakat, dan ibadah-ibadah lainnya sampai akhir hayat Beliau –‘alayhishshalaatu wassalaam-. Apakah mereka lebih baik dari Rasuulullah –‘alayhishshalaatu wassalaam-? Maka sungguh apa yang mereka ucapkan adalah sebuah kedunguan yang sangat. Kepada Allah kita berlindung dari kebodohan. Ya Allah tambahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. Ya Allah jauhkanlah kami dari segala macam kesesatan. Sesungguh-Nya Engkau Maha Mendengar dan Maha Kuasa.

Bersambung..


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: