kemudahan memahami Islaam


pembatal keislaman [4] : Mengambil perantara ketika memohon hajat atau ditimpa musibah yang ia berdoa dan berharap kepada perantara itu.
12 Januari 2008, 12:45 am
Filed under: Pembatal-Pembatal Keislaaman

Alĥamdulillah, washshalaatu wassalaam ‘alaa Nabiyyinaa Muĥammad wa ‘alaa aalihi. Selanjutnya saudara-saudariku.. diantara pembatal-pembatal keislaaman adalah:

2.                  Mengambil perantara antara ia dan Allah ketika memohon hajat atau ditimpa musibah yang ia berdoa dan berharap kepada perantara itu.

Dan sungguh hal ini sangat banyak menimpa kaum muslimin. Kita saksikan orang-orang tersebut ketika ditimpa musibah mereka mengatakan: “Ya Syaykh Fulan..” “Ya Wali Fulan..”. Kita saksikan pula mereka menangis di sisi-sisi kuburan orang-orang yang di anggap saleh. Bahkan kita saksikan pula konvoi bis bertuliskan “Tour Ziarah ke Makam para Wali”, lalu di makam para ‘wali’ tersebut mereka menjadikan ‘wali-wali’ tersebut sebagai perantara antara mereka dan Allah di mana mereka berdoa dan berharap serta bertawakkal kepada ‘wali-wali’ tersebut. Kepada Allah kita mengadu, kepada Allah kita memohon pertolongan.

Apabila dikatakan kepada mereka: “Mengapa kalian menjadikan orang-orang ini sebagai perantara antara kalian dengan Allah?”

Maka mereka akan menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang saleh.. mereka adalah orang yang memiliki kedudukan di sisi Allah. Mereka ini adalah orang-orang yang akan mendekatkan diri kami kepada Allah. Mereka ini adalah orang-orang yang akan memberi syafa‘at untuk kami di sisi Allah.” 

Maha Suci Allah, bukankah jawaban mereka itu adalah sebagaimana perkataan orang-orang musyrik kafir dahulu.. 

“Dan mereka beribadah (menyembah) kepada selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula dapat memberikan manfaat kepada mereka, dan mereka berkata: ‘Mereka ini adalah pemberi syafa‘at kepada kami di sisi Allah’” (Terjemahan surat Yuunus sebahagian ayat ke 18) 

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung (wali-wali) selain Allah (berkata): ‘Tidaklah kami beribadah kepada mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka padanya berselisih. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang sangat pendusta lagi sangat kafir (ingkar).” (Terjemahan surat Az-Zumar sebahagian ayat ke 3) 

Apabila dikatakan kepada mereka: “Mengapa kalian menjadikan orang-orang ini sebagai perantara antara kalian dengan Allah? Jangan kalian melakukannya ini adalah kesyirikan!”  

Maka mereka akan menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang saleh.. mereka adalah orang yang memiliki kedudukan di sisi Allah. Kami telah mendapati nenek moyang dan kyai-kyai kami melakukannya. Diamlah kalian! Kalian adalah orang-orang yang tidak menghormati orang-orang saleh” 

Maha Suci Allah, bukankah ini adalah serupa dengan jawaban orang-orang musyrik dahulu ketika mereka diseru kepada tawĥiid.. 

“Dan mereka takjub (heran) karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan (Rasuulullah) dari kalangan mereka. Dan berkatalah orang-orang kafir: ‘Ini adalah seorang tukang sihir yang sangat pendusta. Apakah ia menjadikan ilaah-ilaah (yang berhak diibadahi dan disembah) itu hanya satu saja? Sesungguhnya hal ini adalah sesuatu yang sangat menakjubkan (mengherankan).’” (Terjemahan surat Shaad ayat ke 4 dan ke 5) 

“Dan demikianlah, tidaklah Kami mengutus sebelummu dalam suatu negeri seorang pemberi peringatan pun melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami telah mendapati bapak-bapak kami di atas suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’. (Rasuul itu) berkata: ‘Apakah (kalian akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untuk kalian (sesuatu) yang lebih (nyata) petunjuknya (kebenarannya) daripada apa yang kalian dapati bapak-bapak kalian di atasnya?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami terhadap apa yang kamu diutus dengannya adalah orang-orang yang ingkar (kafir)’ Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (Terjemahan surat Az-Zukhruf ayat 23, 24 dan 25) 

Maka kita jawab ucapan mereka: “Saudaraku, kami tidak mengingkari adanya syafa‘at, kami juga tidak mengajak kalian untuk merendahkan orang-orang saleh, kami juga tidak mengingkari adanya wali-wali Allah, namun jangan kita berlebihan ekstrim.. jangan pula kita menyepelekan, namun berlaku adillah, letakkanlah sesuatu pada tempatnya. Berdoalah kalian hanya kepada Allah, berdoalah memohon langsung   kepada-Nya, jangan kalian mengambil antara kalian dengan-Nya seorang perantarapun! Bukankah kalian meyakini bahwasanya Allah Maha Mendengar?” 

Demikianlah, dan patut untuk diketahui bahwasanya syafa‘at itu ada dua: syafa‘at yang ditetapkan adanya dan syafa‘at yang dinafikan, dan syafa‘at juga memiliki syarat-syarat yang tanpanya maka syafa‘at tersebut tidak akan terwujud. Begitu pula tentang wali-wali Allah, padanya terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan, karena di sana ada wali-wali setan. Kalaulah tidak karena bermaksud agar pembahasan ini ringkas maka aku akan menyebutkannya di sini dengan izin Allah, namun insyaa-allah pada kesempatan yang lain saja kita akan membahas tentang masalah syafa‘at dan wali-wali Allah. 

Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertawĥiid dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang musyrik.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: